Senin, 27 Desember 2010

Mola Hidatidosa

Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana hampir seluruh vilikorialisnya mengalami perubahan hidrofix


Etilogi
Belum diketahui pasti. Ada yang menyatakan akibat infeksi, defisiensi makanan, dan genetik. Yang paling cocok ialah teori Acosta Sison, yaitu definisi protein. Faktor resiko terdapat pada golongan sosioekonomi rendah, usia dibawah 20 tahun, dan paritas tinggi.

Patogenesis

  • Mola hidatidosa berkembang dari trofoblas ekstraembrionik.
  • Mola Hidatidosa terbagi menjadi:
  • Mola hidatidosa komplet(klasik), jika tidak ditemukan janin.
  • Mola Hidatidosa inkomplet(parsial), jika disertai janin atau bagian janin
Manifestasi klinis
  • Amenore dan tanda-tanda kehamilan.
  • Perdarahan pervaginam berulang. Darah cenderung berwarna cokelat. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola
  • Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan
  • Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusar atau lebih
  • Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu

Pemeriksaan penunjang
  • Pemeriksaan sonde uterus (Hanifa)
  • Tes acesta sison. Dengan tang abortus, gelembung mota dapat dikeluarkan.
  • Peningkatan kadar beta hCG darah atau urin.
  • Ultrasonografi menunjukkan gambaran badai salju (snow flake pattern).
  • Foto toraks ada gambaran emboli udara
  • Pemeriksaan T dan T bila ada gejala tirotoksikosis
Komplikasi
Anemia, syok, infeksi, eklampsia, dan tirotoksikosis.

Diagnosis
  • Anamnesis: perdarahan pervaginam/gambaran mola, gejala toksemia pada trimester I-II. hiperemesis gravidarium, gejala tiroksikosis, dan gejala emboli paru.
  • Pemeriksaan fisik: uterus lebih besar dari usia kehamilan, kista lutein, balotemen negatif, denyut jantung janin negatif
  • Pemeriksaan penunjang: pada tes Acosta Sison dapat dikeluarkan jaringan mola, pada ted Hanifa sonde dapat masuk tanpa tahanan dan diputar 360 derajat dengan deviasi sonde kurang dari 10 derajat.
Diagnosis Banding
Kehamilan dengan mioma, abortus, hdramnion, dan gemeli.

Penatalaksanaan
  • Perbaiki keadaan Umum
  • Keluarkan jaringan mola dengan vakum kuretase dilanjutkan dengan kuret tajam. Lakukan kuretase kedua bila tinggi fundus uteruslebih dari 20 minggu sesudah hari ketujuh.
  • Untuk memperbaiki kontraksi, sebelumnya berikan uterotonik (20-40 unit oksitosin dalam 250 cc darah atau 50 unit oksitosin dalam 500 ml NaCl 0,9%). Bila tidak dapat dilakukan vakum kuretase, dapat diambil tindakan histerotomi
  • Hesteroktomi perlu dipertimbangkan pada wanita yang telah cukup umur dan cukup anak. Batasan yang dipakai ialah umur 35 tahun dengan anak hidup tiga.
  • Terapi profilaksis dengan sitostatik metroteksat atau aktinomisin D pada kasus dengan risiko keganasan tinggi seperti umur tua dan paritas tinggi
  • Pemeriksaan ginekologi, radiologi, dan kadar beta hCG lanjutan untuk deteksi dini keganasan. Terjadinya proses keganasan bisa berlangsung antara 7 hari sampai 3 tahun pasca mola, yang paling banyak dalam 6 bulan pertama. Pemeriksaan kadar beta hCG tiap minggu sampai kadar menjadi negatif selama tiga minggu, lalu tiap bulan selama 6 bulan. Pemeriksaan foto toraks tiap bulan sampai kadar beta hCG negatif.
  • Kontrasepsi sebaiknya diberikan preparat progresteron selam 2 tahun.
Prognosis
Hampir 20% mola hidatidosa komplet berlanjut menjadi keganasan, sedangkan mola hidatidosa parsial jarang. Mola yang terjadi berulang disertai tirotoksikosis atau kista lutein memiliki kemungkinan menjadi ganas lebih tinggi.



Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar